PURWOKERTO, 22.-Agustus 2026 — Malam semakin larut, namun suara kentongan masih menggema kuat di jantung Kota Purwokerto. Denting bambu yang dipukul berirama berpadu dengan musik, gerak para penampil, dan sorak ribuan penonton yang memenuhi ruas jalan di depan Alun-alun Purwokerto, Sabtu malam (22/8/2026). Hingga dini hari Minggu, masyarakat tetap bertahan — bukan sekadar untuk hiburan, melainkan untuk merawat napas budaya Banyumas.
📋 Rangkuman Festival Kentongan 2026
Tabel Aspek Detail
Waktu Sabtu malam, 22 Agustus 2026 — berlangsung hingga dini hari Minggu
Lokasi Halaman depan Alun-alun Purwokerto
Peserta 16 kelompok hasil seleksi Pakemmas (Paguyuban Kentongan Banyumas)
Sponsor utama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto — menanggung 50% anggaran
Tema Kreasi kentongan dengan sentuhan modern, tanpa kehilangan karakter khas Banyumas
Tokoh hadir Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono.
🎭 Kentongan: Dari Penanda Desa ke Panggung Kreativitas
Di tangan para pelaku seni, kentongan — yang dahulu lekat sebagai benda bambu penanda waktu atau tanda kehidupan masyarakat desa — kini menjelma menjadi alat musik yang mampu mengiringi pertunjukan dengan ritme dinamis. Festival ini bukan sekadar pentas seni, melainkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan warisan budaya daerahnya.
Yang paling menarik, festival ini mampu mempertemukan lintas generasi. Orang tua, anak-anak, hingga generasi milenial berdiri berdampingan di sepanjang jalan, menikmati setiap penampilan. Mereka tidak hanya datang sebagai penonton — sebagian lainnya turun menjadi pelaku, ikut menjaga agar seni kentongan tetap hidup dan relevan.
Dukungan BI & Komitmen Tahunan
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyambut baik komitmen Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto untuk menjadi sponsor utama setiap tahun: ujarnya bupati Banyumas.
"Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bank Indonesia yang telah berkomitmen akan menjadi sponsor utama Festival Kentongan setiap tahun. BI akan menanggung 50 persen anggaran penyelenggaraan, sedangkan kebutuhan lainnya ditanggung bersama."
Dukungan ini diharapkan membuat festival semakin berkembang dan dikemas lebih menarik, tanpa meninggalkan akar tradisi.
Makna di Balik Denting Bambu
Namun, jauh di balik kemeriahan panggung dan urusan anggaran, ada sesuatu yang jauh lebih penting: bunyi kentongan yang terus terdengar.
Selama masyarakat masih datang, selama generasi muda masih mau memainkan bambu-bambu itu, tradisi belum menjadi sekadar kenangan. Ia masih bernapas, bergerak, dan tumbuh bersama masyarakat Banyumas.
Festival Kentongan akhirnya bukan hanya tentang pertunjukan satu malam. Ia adalah cara Banyumas merawat identitasnya — dengan suara yang sederhana, tetapi mampu membuat ribuan orang bertahan hingga dini hari."pungkasnya.
"Sabar.
Post a Comment